Kehadiran wabah virus corona memporak-porandakan seluruh umat manusia di dunia. Tak terkecuali di tanah kelahiran sendiri yang notabene kabupaten terpencil di tatar Pasundan. Kehadiran virus ini tidak hanya menggerus imunitas kesehatan semata tetapi juga menggerus kuantitas ekonomi sebagian manusia. Sekonyong-konyong virus corona datang mengobrak-abrik aktivitas kehidupan dan memaksa penghuni bumi untuk tetap tinggal di dalam hunian.
Dalam upaya mencegah penularan virus corona ini kabupaten Kuningan pun menggencarkan strategi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dimulai hari Rabu (06/05/2020) di 11 kecamatan. PSBB sendiri dimulai pada jam 16.00 dimana masyarakat tidak boleh mengadakan sebuah acara yang melibatkan banyak orang dan dilarang keluar rumah selama PSBB. Namun kebanyakan masyarakat tak memedulikan adanya PSBB ini. Dalam laporan di beberapa media lokal menyebutkan bahwa masih banyak warga yang memenuhi jalan. Melihat hal demikian Wabup Kuningan terkaget-kaget karena masih banyak warga yang berkumpul di alun-alun Kuningan.
Baca Juga:
Seperti kota mati pernah terjadi di masa lalu Kuningan
Gambar hanya illustrasi |
Penyakit jenis apa kala itu?
Di perkirakan wabah cacar muncul sekitar tahun 10.000 SM di sebuah pemukiman masyarakat pertanian di daerah Mesir. Masuknya cacar ke wilayah Indonesia diperkirakan sejak zaman Hindu-Buddha tatkala lalu lintas perdagangan internasional tengah ramai-ramainya. Di duga penyakit itu dibawa oleh salah satu dari para saudagar yang berdagang lantas menyebar ke masyarakat.
Tentang kenapanya terjadi PSBB di desa Cibingbin kala itu menurut beberapa sumber ketika terjadi vaksinasi cacar yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap masyarakat nusantara dalam upaya mencegah wabah cacar--masyarakat menganggap bahwa vaksinasi itu adalah sebuah cara untuk melemahkan masyarakat Pribumi lalu kemudian akan diumpankan ke buaya perliharaan Residen.
Baca Juga:
Mendengar rumor yang beredar masyarakat berduyun-duyun melarikan anaknya untuk disembunyikan ke sebuah hutan. Melihat kala itu daerah Cibingbin merupakan belantara yang jinak artinya tidak terlalu seram dan adanya penduduk dapat dijadikan alternatif dalam masa pelarian dari vaksinasi.
"Apa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial dianggap dalam rangka menekan pemberontakan". Tulis A.A Loedin dalam bukunya.
Posting Komentar